Beban kita sekarang adalah masalah kejujuran, jujur terhadap sejarah Indonesia. tapi yang lebih memprihatinkan lagi, saat pemuda sekarang tidak lagi menghargai sejarah. Ketika sejarah itu diabaikan, itu berarti orang tidak mengenal lagi dirinya. -Anhar Gonggong
Field Trip bersejarah bersama kenangan yang saling bergandengan dimulai ketika supir bus menginjak pedal gas, memulai perjalanan para muda-mudi mulia yang biasa disebut Mahasiswa-mahasiswi dengan kecintaanya serta rasa kagumnya terhadap sejarah. Sejarah yang seakan mulai memudar dari ingatan orang-orang seiring dengan berjalannya waktu, bagaikan seorang kekasih yang hanya indah pada masanya, kemudian terlupakan saat rasa yang sama tak lagi mampu menyatukan. Begitu pula sejarah yang mempunyai kenangan indah nanpenting bagi bangsa, namun terlupakan oleh kehedonismean bangsanya sediri yang lebih tertarik pada konten preng Atta Halilintar dan Squisy milik Ria Ricis. Hal ini lah yang membuat patah hati bagi para pengagum sejarah,
Destinasi pertama dari field trip ini berpijak di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Untuk mengeksplorasi tempat bersejarah, yakni Candi Gunung Wukir yang berada di puncak gunung Wukir dengan ketinggian 359 meter dari permukaan laut. Cuaca panas yang menemani langkah untuk mengunjungi “Candi yang Kesepian, di tengah ramainya Candi Borobudur dan Candi Prambanan” membuat hati bangga bercampur sedih. Ketika pertama kali mendengar Candi Gunung Wukir, terbayang candi yang megah dengan ukiran yang indah. Namun kenyataannya Candi Gunung Wukir ini belum berbentuk candi seperti halnya candi-candi yang lain, candi ini hanya ditemukan sisa-sisanya saja yang kemudian oleh para ahli direkonstruksi seperti halnya kepingan puzzle. Hal yang sulit dari perekonstruksian kembali candi ini adalah hilang ataupun belum ditemukannya batu asli bangunan candi, sehingga mengharuskan menambah batu yang bukan aslinya demi kepentingan rekonstruksi.
Disitus Candi Gunung Wukir ini terdapat empat sisa-sisa candi, satu candi induk dengan yoni tanpa lingga di tengahnya, dan tiga candi perwara yang menemani candi induk. Disalah satu Candi perwara ini, terdapat patung sapi yang terbuat dari batu, ini menandakan bahwa Candi Gunung Wukir adalah Candi yang bercorak agama Hindu. Karena Sapi adalah binatang yang suci dalam agama Hindu, seperti yang pernah saya lihat di film Little Krishna, semua warga Vrindavan menganggap Sapi adalah hewan suci. Sedangkan Krishna sendiri adalah salah satu dewa yang dipuja oleh penganut agama Hindu, karena dianggap sebagai inkarnasi dari dewa Wisnu (salah satu dari tiga dewa utama agama Hindu).
Menurut Poerbatjaraka (orang Sunda bilang Purbacaraka dan orang Jawa bilang Purbocoroko), Candi ini diidentifikasikan sebagai candi untuk menempatkan lingga yang didirikan oleh Raja Sanjaya di bukit Sthirangga di daerah Kunjarakunja. Apabila dikaitkan anatara Candi Gunung Wukir dengan prasasti Canggal, yang berisikan tentang peringatan pendirian sebuah lingga di bukit Sthirangga untuk kebahagia manusia. Apabila benar, maka candi ini berusia cukup tua karena diterbitkan tahun 732 Masehi, merujuk pada prasasti Canggal.
Candi Gunung Wukir ini dibuat dari batu sungai, yang diperkirakan diambil dari sungai di kaki Gunung Wukir. Sungai ini bisa kalian temui apabila kalian hendak berkunjung ke situs Candi Gunung Wukir, karena sungai ini terletak di jalan utama situs Candi Gunung Wukir. Perjalanan untuk sampai ke situs bersejarah ini memakan waktu sekitar 15-20 menit, karena lokasinya yang tidak jauh dari jalan raya. Tapi ironisnya candi ini seakan kesepian karena jarang sekali para pengagum sejarah mengeksplorasinya atau bahkan sekedar mengunjunginya saja. Lebih kesepiannya lagi di sisa-sisa candi ini hanya terdapat yoni nya saja tanpa ada kekasihnya lingga, entah hilang atau masih belum ditemukan.
Candi yang bercorak Hindu ini terletak tidak jauh dari candi Borobudur yang bercorak Budha, hal ini menandakan bahwa toleransi beragama telah ada sejak jaman dahulu. Namun dewasa ini isu toleransi beragama menjadi hal yang rumit untuk dirundingkan, saya kira ini adalah efek kurangnya minat orang-orang terhadap sejarah, khususnya sejarah Indonesia. toleransi beragama juga bisa dilihat pada masa Raja Rakai pikatan, raja keenam (menurut prasasti Mantyasih) dari kerajaan Medang atau Mataram Hindu berwangsa Sanjaya, yang menikahi putri dari Samaratungga yaitu Pramodawardhani berwangsa Syailendra. Pernikahan ini berbeda agama, Rakai Pikatan beragama Hindu sedangkan istrinya Pramodawardhani beragama Budha. Kemudian setelah pernikahan, sebagai bukti cinta Rakai Pikatan membangun candi Plaosan, candi Plaosan Lor dan candi Plaosan Kidul. Candi ini bercorak Budha karena terdapat candi perwara yang berbentuk stupa, namun candi ini berrelief khas Hindu. Jadi candi ini adalah perpaduan antara Hindu dan Budha yang menggambarkan sisi toleransi yang luar biasa. Dari letaknya saja yang berdekatan antara candi bercorak Hindu dan candi bercorak Budha, bisa diambil pelajaran yang berharga, yaitu toleransi. Apalagi apabila di eksplorasi secara mendalam, mungkin akan mendapatkan banyak manfaat atau pelajaran yang dapat diambil dari candi-candi ini.
Meskipun kabut misteri yang cukup pekat masih menyelimuti tentang keberadaan Candi Gunung Wukir, namun Candi Gunung Wukir sudah pantas menjadi destinasi study tour dan juga menjadi tujuan penelitian sejarah bagi para pengagum sejarah. Karena tidak banyak para pengagum sejarah yang telah mengekplorasi atau sekedar berkunjung ke Candi Gunung Wukir ini, maka sensasi yang berbeda akan anda rasakan apabila anda telah datang ke Candi Gunung Wukir ini. Sangat jauh sekali perbedaan antara Candi Borobudur dengan Candi Gunung Wukir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar