Pendakian akan selalu terkenang jika diceritakan dan diabadikan melalui tulisan. Dari banyak pengalaman yang telah saya dapatkan selama saya mendaki gunung dari mulai Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, Gunung Ciremai, Gunung Slamet dan Gunung Semeru.
Semua perjalanan mempunyai cerita tersendiri dan pengalaman yang berbeda. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman waktu mendaki ke gunung Semeru. Siapa sih yang tidak tau dengan Gunung Semeru? Gunung Semeru sangat popular bagi kalangan pendaki dan pecinta alam secara khusus, bahkan mereka yang belum pernah mendaki ke gunung Semeru pun sangat terkesima dengan keindahannya sehingga ingin sekali merasakan sensasi ketika mendaki gunung semeru.
Semua perjalanan mempunyai cerita tersendiri dan pengalaman yang berbeda. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman waktu mendaki ke gunung Semeru. Siapa sih yang tidak tau dengan Gunung Semeru? Gunung Semeru sangat popular bagi kalangan pendaki dan pecinta alam secara khusus, bahkan mereka yang belum pernah mendaki ke gunung Semeru pun sangat terkesima dengan keindahannya sehingga ingin sekali merasakan sensasi ketika mendaki gunung semeru.
Gunung Semeru yang
terletak di kedua wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Provinsi Jawa
Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
(TNBTS).
Saya pergi ke Gunung
Semeru tidak sendirian namun berlima di temani kawan-kawan seperjuangan ketika
masih berada di bangku sekolah tepatnya kelas 12, bersama Muhammad Ilyas, Putra
Naufal Prayoga, Agus Zaenal Muttaqien dan Fauzan Muttaqin.
Alasan pergi ke gunung
Semeru kami mempunyai cita-cita bersama dan tekad yang kuat ketika menduduki
kelas 10 untuk pergi ke gunung Semeru. Karna apa, tersebab gunung Semeru
pencapaian terakhir pendakian ketika
masih berada di bangku sekolah sebelum perpisahan kelas dua belas. Juga
terinspirasi dari film 5CM.
Sederhana
pemberangkatan singkatnya. Kami berangkat pada tanggal 26 April 2018 dari Garut
menuju Tasik, dari Tasik naik kereta ke Surabaya lalu dari Surabaya kami naik
mobil Taksi untuk pergi ke terminal. Sesudah sampai ke terminal Surabaya kami
melanjutkan perjalanan ke kota malang, sesudahnya sampai di kota malang kami
sewa mobil Jeep untuk pergi ke Bascamp Bromo Tengger Semeru.
Perjalanan pun dimulai.
Semua sudah mulai beranjak dari tempat istirahat masing-masing. Akan tetapi
prosedur pendakian memberlakukan saya dan yang lainnya untuk kumpul terlebih
dahulu bersama para pengurus Basecamp. Kami pun dibriefing disana akan
pentingnya sebuah aturan di dalam perjalanan pendakian.
Setelah usai, akhirnya
saya dan teman-teman melangkahkan langkah pertama menuju gunung impian yang
memiliki puncak dengan semboyan “puncaknya para dewa”. Dinamakan seperti itu,
karna memiliki history bahwa hanya para dewalah yang mampu berdiri gagah di
puncak tersebut.
Dalam perjalanan kami
merasa sangat bahagia karna impian ini sedang dalam proses pencapaian.
Bagaimana tidak bahagia, impian ini sudah sangat dipikirkan dari semenjak
sebuah film yang berlatar sama dengan perjalanan ini booming yang membuat kami
terinspirasi.
Di tengah perjalanan kami dikejutkan dengan
pesona puncak yang begitu kokoh berdiri tegak dengan gagahnya.
Melihatnya seperti itu,
membuat kami penuh dengan semangat dalam melangkah. Hati riang mempengaruhi
bibir tersenyum ketika dari kejauhan terlihat pantulan cahaya dari sebuah danau
yang indah, ternyata Ranukumbolo yang asli lebih menakjubkan ketimbang Ranukumbolo
yang ada di balik layar (google).
Berteduh santai kamipun
terlelap di dasaran Syurganya Gunung Semeru itu. Tenda didirikan, makanan
dihidangkan dan kopi yang diseduhkan, membuat kami terlarut dalam kebahagiaan.
Tak terasa kopipun mendingin, namun canda tawa semakin menghangatkan kami.
Setengah jam sudah kami
lalui saat nya melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak.Waktu menunjukkan
jam 23.00, kami pun melanjutkan perjalanan langsung ke puncak Mahameru. Tempat
tertinggi di pulau Jawa ini.
Bertemankan gelap,
suhu dingin dan suara merdu burung, si sang duta suara yg turut mengiringi
perjalanan renyah kami. Tawa dan canda tidak surut mengudara. Rasa curiga,
takut, selalu hadir pada tiap masing-masing kami.
Mengapa? Karena sebelum
memulai mendaki kami briefing di Volunteer, dan diberi tahu bahwa di gunung
indah ini terdapat salah satu jenis harimau buas. Semua gelap, pohon-pohon,
Verbena Brasiliensis pun tidak terlihat indah seperti di poto-poto yg sering dipamerkan
oleh para selebgram-selebgram pendaki. Gelap dan dingin. Itu saja yang kami
rasa.
Sesampainya di
Kalimati, tempat terakhir yang diperbolehkan membawa Carrier, tempat terakhir yg
dihadiri pepohonan dan beberapa jumput rumput atau “batas vegetasi” biasa para
pendaki menyebutnya. Kami pun beristirahat sejenak. Menikmati hangatnya susu
jahe bersama rombongan lain, duduk melingkar mengitari api unggun. 2 jam berlalu. Kami pun
bersiap, menakluki tempat tertinggi ini. Jalan mulai terjal. Medan semakin lama
semakin tajam kemiringannya. Tapi tetap, hal-hal itu tidak menyurutkan semangat
dan tekad kami.
Semankin lama abu
vulkanik semakin terasa tercium tajam. Berbanding lurus dgn tenaga pada
masing-masing kami berkurang. Batas vegetasi, yang sudah lama kami lewati sudah
mulai menjauh. Yang berarti puncak yg
menjadi tujuan kami berangkat dari tempat asal kami, semakin mendekat.
Tanda-tanda kehabisan tenaga pun mulai terasa.
Istirahat yg terlalu intens mewakili jawaban; bahwa tenaga pada masing-maisng
kami mulai hilang. Parahnya, semakin menuju puncak, semakin kacau pola
perjalanan kami. Berjalan yang hanya 5 menit, dan istirahat lebih dari 5 menit.
Dan yg lebih parahnya, istirahat diantara kami, satu dua diantaranya ada yg
selalu tertidur.
Satu diantara kami
sudah ada yg memberikan usul; untuk membatalkan misi besar ini, lalu pulang
menyerah. Menimbang, satu diantara kami ada yg memiliki penyakit asma, yg mulai
kambuh, dan dikhawatirkan berakibat fatal kedepannya. ditambah banyak juga pendaki
lain yang gagal “muncak”.
Tanpa berkompromi, satu diantara kami turun
sendiri dan mengajak saya untuk ikut dengannya. Tiga lain diatasnya masih
kebingungan, dan berkompromi. Akhirnya, mereka pun ikut pulang dgn kami. gagal,adalah satu kata yang sangat
membuat kami, merasa tak berarti. Dan merasa menjadi seorang pengecut. Kami pun
turun menjadi seorang ‘pengecut’.
Mentari pagi mulai
datang menyapa, seolah tengah menghibur, hati pada masing-masing kami yang
sedang merasa kecewa. Tempat-tempat yang semalam kami lewati, yang tak terlihat
sedikitpun, dan yg terlihat hanya gelap. Namun, kini, saat siang datang sangat
indah terlihat. Pohon-pohon, bunga-bunga yg berwarna-warni.
Begitu indah dipandang
seolah semesta tengah mengobati hati kami, bahwa datang kami ke sini tidak
sia-sia. Kami menemukkan kebahagiaan lain. Kami menemukan pemandangan indah
lain selain berdiri diatas puncak gunung Mahameru.
Sesampainya di
Ranupani, tempat terakhir yg boleh dilewati kendaraan normal, dan sebuah tempat
yg dimana semuanya diawal dengan melangkah. Lalu, kami pun naik jeep kembali,
bersama rombongan lain. Pergi ke Tumpang Malang terlebih dahulu, lalu ke
Stasiun Surabaya Gubeng. Dan pulang. Kembali fokus ke kehidupan darat.
Baru sampai stasiun
Gubeng. Jam menunjukkan jam 23.00, yang berarti kita harus menunggu esok hari
karena loket penjualan karcis belum dibuka. Mentari terbit. Kami langsung
bergegas, pergi membeli tiket. Dan anjritnya,
tiket kereta ke tempat kami asal pun, habis hari ini dan sampai tiga hari
kedepan. Tergembelkan , mungkin itu
kata yang paling cocok untuk disematkan pada kami. berangkat tampan, pulang
layaknya preman. Ditambah wajah kucel dan dekil karena perjalanan yang hampir
satu pekan.
Seperti julukkan kota Surabaya ini, pahlawan.
Tetiba Allah SWT mengirimkan kami seorang pahlawan. Dia adalah wakil ketua
Komunitas Motor GSX (jenis motor kenamaan asal jepang; Suzuki), seprovinsi Jawa
Timur. Dia dihubungi oleh kakak saya yg notabene masuk juga Komunitas Motor GSX
di kota padi, Karawang. Mrk saling menghubungi. Lalu, saya diajak berbincang
berdua oleh beliau. Walhasil, sambil memberi nasihat dan petunjuk pulang,
beliau memberikan uang, untuk ongkos kami pulang, dan kembali hidup seperti
biasa kembali.
Dan kami pun pulang.








