Disini saya mengambil tokoh Islam
Indonesia yang juga salah satu tokoh Persatuan Islam (Persis) yaitu Mohammad Natsir.
M.Natsir adalah salah satu tokoh pemikir di Indonesia yang luar biasa. Ia dikenal
sebagai ulama, birokrat, dan tokoh politik yang memiliki gagasan dan ide-ide cemerlang dalam kontribusinya untuk
memajukan Islam dan Negara. Prestasinya yang dipandang sangat luar biasa ini
semakin gmerlap ketika ia berhasil menjadi printis NKRI pada tanggal 17 Agustus
1950. Banyak sekali desertasi-desertasi maupun buku-buku yang membahas mengenai
perjuangan M.Natsir, serta sumbangan-sumbangan pemikirannya. Natsir yang salama
hidupnya bergelut di dunia politik dan dakwah membuat si peneliti tertarik
untuk menuliskan dan menggali lebih jauh mengenai beragam gagasannya.
Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang,
Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Beliau lahir pada tanggal 17
Juli 1908. Pada 20 Oktober 1934, Natsir
dengan Nurmahar di Bandung. Dari pernikahan tersebut, Natsir dikaruniakan enam
anak. Natsir juga diketahui menguasai berbagai bahasa, seperti Inggris,
Belanda, Prancis, Jerman, Arab, dan Esperanto. Natsir juga memiliki kesamaan
hobi dan memiliki kedekatan dengan Douwes Dekker, yakni bermain musik. Natsir
suka memainkan biola dan Dekker suka memainkan gitar. M.Natsir juga sering
berbicara bahasa Belanda dengan Dekker dan sering membicarakan music sekelas
Ludwig Van Beathoven dan novel sekelas Boris Leonidovich Pasternak, Novelis
kenamaan Rusia pada masa itu. Kedekatannya dengan Dekker, menyebabkan Dekker
mau masuk Masyumi. Ide-ide Natsir dengan Dekker tentang perjuangan, demokrai,
dan keadilan memang sejalan dengan Natsir. Ia
meninggal di Jakarta, 6 februari 1993 pada umur 84 tahun. Beliau adalah
seorang ulama, politisi masyumi, dan tokoh Islam terkemuka di Indonesia. Di
dalam negri Indonesia, ia pernah menjabat mentri dan perdana mentri Indonesia,
sedangkan di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim
se-Dunia (World Muslim Congress) dan
ketua dewan Masjid se-Dunia.
Mohammad
Natsir
Perdana
Mentri Indonesia ke-5
Masa jabatan 6 September 1950 – 21 Maret
1951
Presiden Soekarno, Wakil PM
Hamengkubuwana IX, pendahulu Mohammad Hatta dan Abdoel Halim. Pengganti Sukiman
Wirjosandjojo.
Mentri
Penerangan ke 2
Masa jabatan 12 Maret 1946 – 26 Juni
1947
Presiden Soekarno, Perdana Mentri Sutan
Syahrir, pendahulu Amir Sjariffudin, pengganti Setiadi.
Masa jabatan 29 Januari 1948 – 4 Agustus
1949 oleh Presiden Soekarno, Perdana mentri Mohammad Hatta, pendahulu Sjahbudin
latif, pengganti Syafruddin Prawiranegara.
Mohammad Natsir lahir dan dibesarkan di
Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang SMA dan mempelajari ilmu Islam secara luas di Perguruan Tinggi. Beliau
terjuan kedunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai
politik berideologi Islam. Pada 5 September 1950, ia di angkat sebagi perdana
mentri Indonesia kelima. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal
26 April 1951 karena berselish paham dengan Presiden Soekarno, ia semakin vokal
menyuarakan kepentingan peranan Islam di Indonesia hingga membuatnya di
penjarakan oleh Soekarno. Setelah dibebaskan pada tahun 1966, M.Natsir terus
mengkritisi pemerintah yang saat itu telah dipimpin oleh Soeharto membuatnya
dicekal.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran
Islam, juga beliau banyak bergaul dengan pemikir-pemikir Islam seperti, Agus
Salim, sepanjang pertengahan 1930-an, beliau dan Salim selalu berukar pikran
perihal kaitan Islam dengan Negara demi masa depan pemerintahan yang di pimpin
oleh Presiden Soekarno. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya
tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929 hingga akhir hayatnya ia telah
menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain. Ia memandang Islam
sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Ia mengaku kecewa dengan
perlakuan pemerintah Soekarno dan Soeharto terhadap Islam. Pada tanggal 10 November
2008, M.Natsir dinyatakan sebagai pahlawan nasional Indonesia. M.Natsir dikenal
sebagai mentri yang “Tak punya baju bagus, jasnya bertambal. Dia dikenang
sebagai mentri yang tak punya rumah dan menolak hadiah mobil mewah”.
