Sabtu, 11 Januari 2020

Kisah Kasih Perjalanan Ke Gunung Semeru



Pendakian akan selalu terkenang jika diceritakan dan diabadikan melalui tulisan. Dari banyak pengalaman yang telah saya dapatkan selama saya mendaki gunung dari mulai Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, Gunung Ciremai, Gunung Slamet dan Gunung Semeru.

Semua perjalanan mempunyai cerita tersendiri dan pengalaman yang berbeda. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman waktu mendaki ke gunung Semeru.    Siapa sih yang tidak tau dengan Gunung Semeru? Gunung Semeru sangat popular bagi kalangan pendaki dan pecinta alam secara khusus, bahkan mereka yang belum pernah mendaki ke gunung Semeru pun sangat terkesima dengan keindahannya sehingga ingin sekali merasakan sensasi ketika mendaki gunung semeru.

Gunung Semeru yang terletak di kedua wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Saya pergi ke Gunung Semeru tidak sendirian namun berlima di temani kawan-kawan seperjuangan ketika masih berada di bangku sekolah tepatnya kelas 12, bersama Muhammad Ilyas, Putra Naufal Prayoga, Agus Zaenal Muttaqien dan Fauzan Muttaqin.

Alasan pergi ke gunung Semeru kami mempunyai cita-cita bersama dan tekad yang kuat ketika menduduki kelas 10 untuk pergi ke gunung Semeru. Karna apa, tersebab gunung Semeru pencapaian terakhir  pendakian ketika masih berada di bangku sekolah sebelum perpisahan kelas dua belas. Juga terinspirasi dari film 5CM.



Sederhana pemberangkatan singkatnya. Kami berangkat pada tanggal 26 April 2018 dari Garut menuju Tasik, dari Tasik naik kereta ke Surabaya lalu dari Surabaya kami naik mobil Taksi untuk pergi ke terminal. Sesudah sampai ke terminal Surabaya kami melanjutkan perjalanan ke kota malang, sesudahnya sampai di kota malang kami sewa mobil Jeep untuk pergi ke Bascamp Bromo Tengger Semeru.

Perjalanan pun dimulai. Semua sudah mulai beranjak dari tempat istirahat masing-masing. Akan tetapi prosedur pendakian memberlakukan saya dan yang lainnya untuk kumpul terlebih dahulu bersama para pengurus Basecamp. Kami pun dibriefing disana akan pentingnya sebuah aturan di dalam perjalanan pendakian.


Setelah usai, akhirnya saya dan teman-teman melangkahkan langkah pertama menuju gunung impian yang memiliki puncak dengan semboyan “puncaknya para dewa”. Dinamakan seperti itu, karna memiliki history bahwa hanya para dewalah yang mampu berdiri gagah di puncak tersebut.

Dalam perjalanan kami merasa sangat bahagia karna impian ini sedang dalam proses pencapaian. Bagaimana tidak bahagia, impian ini sudah sangat dipikirkan dari semenjak sebuah film yang berlatar sama dengan perjalanan ini booming yang membuat kami terinspirasi.

Di tengah perjalanan kami dikejutkan dengan pesona puncak yang begitu kokoh berdiri tegak dengan gagahnya.

Melihatnya seperti itu, membuat kami penuh dengan semangat dalam melangkah. Hati riang mempengaruhi bibir tersenyum ketika dari kejauhan terlihat pantulan cahaya dari sebuah danau yang indah, ternyata Ranukumbolo yang asli lebih menakjubkan ketimbang Ranukumbolo yang ada di balik layar (google).




Berteduh santai kamipun terlelap di dasaran Syurganya Gunung Semeru itu. Tenda didirikan, makanan dihidangkan dan kopi yang diseduhkan, membuat kami terlarut dalam kebahagiaan. Tak terasa kopipun mendingin, namun canda tawa semakin menghangatkan kami. 

Setengah jam sudah kami lalui saat nya melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak.Waktu menunjukkan jam 23.00, kami pun melanjutkan perjalanan langsung ke puncak Mahameru. Tempat tertinggi di pulau Jawa ini.

Bertemankan gelap, suhu dingin dan suara merdu burung, si sang duta suara yg turut mengiringi perjalanan renyah kami. Tawa dan canda tidak surut mengudara. Rasa curiga, takut, selalu hadir pada tiap masing-masing kami. 

Mengapa? Karena sebelum memulai mendaki kami briefing di Volunteer, dan diberi tahu bahwa di gunung indah ini terdapat salah satu jenis harimau buas. Semua gelap, pohon-pohon, Verbena Brasiliensis pun tidak terlihat indah seperti di poto-poto yg sering dipamerkan oleh para selebgram-selebgram pendaki. Gelap dan dingin. Itu saja yang kami rasa.

Sesampainya di Kalimati, tempat terakhir yang diperbolehkan membawa Carrier, tempat terakhir yg dihadiri pepohonan dan beberapa jumput rumput atau “batas vegetasi” biasa para pendaki menyebutnya. Kami pun beristirahat sejenak. Menikmati hangatnya susu jahe bersama rombongan lain, duduk melingkar mengitari api unggun. 2 jam berlalu. Kami pun bersiap, menakluki tempat tertinggi ini. Jalan mulai terjal. Medan semakin lama semakin tajam kemiringannya. Tapi tetap, hal-hal itu tidak menyurutkan semangat dan tekad kami.

Semankin lama abu vulkanik semakin terasa tercium tajam. Berbanding lurus dgn tenaga pada masing-masing kami berkurang. Batas vegetasi, yang sudah lama kami lewati sudah mulai  menjauh. Yang berarti puncak yg menjadi tujuan kami berangkat dari tempat asal kami, semakin mendekat.

Tanda-tanda kehabisan tenaga pun mulai terasa. Istirahat yg terlalu intens mewakili jawaban; bahwa tenaga pada masing-maisng kami mulai hilang. Parahnya, semakin menuju puncak, semakin kacau pola perjalanan kami. Berjalan yang hanya 5 menit, dan istirahat lebih dari 5 menit. Dan yg lebih parahnya, istirahat diantara kami, satu dua diantaranya ada yg selalu tertidur. 


Satu diantara kami sudah ada yg memberikan usul; untuk membatalkan misi besar ini, lalu pulang menyerah. Menimbang, satu diantara kami ada yg memiliki penyakit asma, yg mulai kambuh, dan dikhawatirkan berakibat fatal kedepannya. ditambah banyak juga pendaki lain yang gagal “muncak”.

Tanpa berkompromi, satu diantara kami turun sendiri dan mengajak saya untuk ikut dengannya. Tiga lain diatasnya masih kebingungan, dan berkompromi. Akhirnya, mereka pun ikut pulang dgn kami. gagal,adalah satu kata yang sangat membuat kami, merasa tak berarti. Dan merasa menjadi seorang pengecut. Kami pun turun menjadi seorang ‘pengecut’.

Mentari pagi mulai datang menyapa, seolah tengah menghibur, hati pada masing-masing kami yang sedang merasa kecewa. Tempat-tempat yang semalam kami lewati, yang tak terlihat sedikitpun, dan yg terlihat hanya gelap. Namun, kini, saat siang datang sangat indah terlihat. Pohon-pohon, bunga-bunga yg berwarna-warni.


Begitu indah dipandang seolah semesta tengah mengobati hati kami, bahwa datang kami ke sini tidak sia-sia. Kami menemukkan kebahagiaan lain. Kami menemukan pemandangan indah lain selain berdiri diatas puncak gunung Mahameru.



Sesampainya di Ranupani, tempat terakhir yg boleh dilewati kendaraan normal, dan sebuah tempat yg dimana semuanya diawal dengan melangkah. Lalu, kami pun naik jeep kembali, bersama rombongan lain. Pergi ke Tumpang Malang terlebih dahulu, lalu ke Stasiun Surabaya Gubeng. Dan pulang. Kembali fokus ke kehidupan darat.

Baru sampai stasiun Gubeng. Jam menunjukkan jam 23.00, yang berarti kita harus menunggu esok hari karena loket penjualan karcis belum dibuka. Mentari terbit. Kami langsung bergegas, pergi membeli tiket. Dan anjritnya, tiket kereta ke tempat kami asal pun, habis hari ini dan sampai tiga hari kedepan. Tergembelkan , mungkin itu kata yang paling cocok untuk disematkan pada kami. berangkat tampan, pulang layaknya preman. Ditambah wajah kucel dan dekil karena perjalanan yang hampir satu pekan.

Kami tidak bisa pulang, karena sisa uang kas kami, telah teranggarkan hanya untuk naik kereta. Tiket habis. Naik bis lebih mahal. Dan tak dapat naik bis jika uang yg kami pegang sedikit itu. Kami sholat dan berdoa agar bisa pulang.

Seperti julukkan kota Surabaya ini, pahlawan. Tetiba Allah SWT mengirimkan kami seorang pahlawan. Dia adalah wakil ketua Komunitas Motor GSX (jenis motor kenamaan asal jepang; Suzuki), seprovinsi Jawa Timur. Dia dihubungi oleh kakak saya yg notabene masuk juga Komunitas Motor GSX di kota padi, Karawang. Mrk saling menghubungi. Lalu, saya diajak berbincang berdua oleh beliau. Walhasil, sambil memberi nasihat dan petunjuk pulang, beliau memberikan uang, untuk ongkos kami pulang, dan kembali hidup seperti biasa kembali.

Dan kami pun pulang.

Sabtu, 04 Januari 2020

CANDI GUNUNG WUKIR CANDI KESEPIAN DIKERAMAYAN

Beban kita sekarang adalah masalah kejujuran, jujur terhadap sejarah Indonesia. tapi yang lebih memprihatinkan lagi, saat pemuda sekarang tidak lagi menghargai sejarah. Ketika sejarah itu diabaikan, itu berarti orang tidak mengenal lagi dirinya.  -Anhar Gonggong
Field Trip bersejarah bersama kenangan yang saling bergandengan dimulai ketika supir bus menginjak pedal gas, memulai perjalanan para muda-mudi mulia yang biasa disebut Mahasiswa-mahasiswi dengan kecintaanya serta rasa kagumnya terhadap sejarah. Sejarah yang seakan mulai memudar dari ingatan orang-orang seiring dengan berjalannya waktu, bagaikan seorang kekasih yang hanya indah pada masanya, kemudian terlupakan saat rasa yang sama tak lagi mampu menyatukan. Begitu pula sejarah yang mempunyai kenangan indah nanpenting bagi bangsa, namun terlupakan oleh kehedonismean bangsanya sediri yang lebih tertarik pada konten preng Atta Halilintar dan Squisy milik Ria Ricis. Hal ini lah yang membuat patah hati bagi para pengagum sejarah,
Destinasi pertama dari field trip ini berpijak di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Untuk mengeksplorasi tempat bersejarah, yakni Candi Gunung Wukir yang berada di puncak gunung Wukir dengan ketinggian 359 meter dari permukaan laut. Cuaca panas yang menemani langkah untuk mengunjungi “Candi yang Kesepian, di tengah ramainya Candi Borobudur dan Candi Prambanan” membuat hati bangga bercampur sedih. Ketika pertama kali mendengar Candi Gunung Wukir, terbayang candi yang megah dengan ukiran yang indah. Namun kenyataannya Candi Gunung Wukir ini belum berbentuk candi seperti halnya candi-candi yang lain, candi ini hanya ditemukan sisa-sisanya saja yang kemudian oleh para ahli direkonstruksi seperti halnya kepingan puzzle. Hal yang sulit dari perekonstruksian kembali candi ini adalah hilang ataupun belum ditemukannya batu asli bangunan candi, sehingga mengharuskan menambah batu yang bukan aslinya demi kepentingan rekonstruksi.



Disitus Candi Gunung Wukir ini terdapat empat sisa-sisa candi, satu candi induk dengan yoni tanpa lingga di tengahnya, dan tiga candi perwara yang menemani candi induk. Disalah satu Candi perwara ini, terdapat patung sapi yang terbuat dari batu, ini menandakan bahwa Candi Gunung Wukir adalah Candi yang bercorak agama Hindu. Karena Sapi adalah binatang yang suci dalam agama Hindu, seperti yang pernah saya lihat di film Little Krishna, semua warga Vrindavan menganggap Sapi adalah hewan suci. Sedangkan Krishna sendiri adalah salah satu dewa yang dipuja oleh penganut agama Hindu, karena dianggap sebagai inkarnasi dari dewa Wisnu (salah satu dari tiga dewa utama agama Hindu).
Menurut Poerbatjaraka (orang Sunda bilang Purbacaraka dan orang Jawa bilang Purbocoroko), Candi ini diidentifikasikan sebagai candi untuk menempatkan lingga yang didirikan oleh Raja Sanjaya di bukit Sthirangga di daerah Kunjarakunja. Apabila dikaitkan anatara Candi Gunung Wukir dengan prasasti Canggal, yang berisikan tentang peringatan pendirian sebuah lingga di bukit Sthirangga untuk kebahagia manusia. Apabila benar, maka candi ini berusia cukup tua karena diterbitkan tahun 732 Masehi, merujuk pada prasasti Canggal.
Candi Gunung Wukir ini dibuat dari batu sungai, yang diperkirakan diambil dari sungai di kaki Gunung Wukir. Sungai ini bisa kalian temui apabila kalian hendak berkunjung ke situs Candi Gunung Wukir, karena sungai ini terletak di jalan utama situs Candi Gunung Wukir. Perjalanan untuk sampai ke situs bersejarah ini memakan waktu sekitar 15-20 menit, karena lokasinya yang tidak jauh dari jalan raya. Tapi ironisnya candi ini seakan kesepian karena jarang sekali para pengagum sejarah mengeksplorasinya atau bahkan sekedar mengunjunginya saja. Lebih kesepiannya lagi di sisa-sisa candi ini hanya terdapat yoni nya saja tanpa ada kekasihnya lingga, entah hilang atau masih belum ditemukan.
Candi yang bercorak Hindu ini terletak tidak jauh dari candi Borobudur yang bercorak Budha, hal ini menandakan bahwa toleransi beragama telah ada sejak jaman dahulu. Namun dewasa ini isu toleransi beragama menjadi hal yang rumit untuk dirundingkan, saya kira ini adalah efek kurangnya minat orang-orang terhadap sejarah, khususnya sejarah Indonesia. toleransi beragama juga bisa dilihat pada masa Raja Rakai pikatan, raja keenam (menurut prasasti Mantyasih) dari kerajaan Medang atau Mataram Hindu berwangsa Sanjaya, yang menikahi putri dari Samaratungga yaitu Pramodawardhani berwangsa Syailendra. Pernikahan ini berbeda agama, Rakai Pikatan beragama Hindu sedangkan istrinya Pramodawardhani beragama Budha. Kemudian setelah pernikahan, sebagai bukti cinta Rakai Pikatan membangun candi Plaosan, candi Plaosan Lor dan candi Plaosan Kidul. Candi ini bercorak Budha karena terdapat candi perwara yang berbentuk stupa, namun candi ini berrelief khas Hindu. Jadi candi ini adalah perpaduan antara Hindu dan Budha yang menggambarkan sisi toleransi yang luar biasa. Dari letaknya saja yang berdekatan antara candi bercorak Hindu dan candi bercorak Budha, bisa diambil pelajaran yang berharga, yaitu toleransi. Apalagi apabila di eksplorasi secara mendalam, mungkin akan mendapatkan banyak manfaat atau pelajaran yang dapat diambil dari candi-candi ini.
Meskipun kabut misteri yang cukup pekat masih menyelimuti tentang keberadaan Candi Gunung Wukir, namun Candi Gunung Wukir sudah pantas menjadi destinasi study tour dan juga menjadi tujuan penelitian sejarah bagi para pengagum sejarah. Karena tidak banyak para pengagum sejarah yang telah mengekplorasi atau sekedar berkunjung ke Candi Gunung Wukir ini, maka sensasi yang berbeda akan anda rasakan apabila anda telah datang ke Candi Gunung Wukir ini. Sangat jauh sekali perbedaan antara Candi Borobudur dengan Candi Gunung Wukir.